Dua pendaki asal Singapura yang dilaporkan hilang dipastikan tewas dalam letusan gunung berapi di Indonesia, kata Kepala SAR

Dua pendaki asal Singapura yang dilaporkan hilang dipastikan tewas dalam letusan gunung berapi di Indonesia, kata Kepala SAR

Dua pendaki asal Singapura yang dilaporkan hilang dipastikan tewas dalam letusan gunung berapi di Indonesia, kata Kepala SAR

Liga335 daftar – GALELA, Halmahera Utara (The Straits Times/ANN): Dua pendaki asal Singapura yang dilaporkan hilang dipastikan tewas akibat letusan Gunung Dukono di Indonesia, demikian disampaikan kepala badan pencarian dan penyelamatan setempat kepada The Straits Times pada 10 Mei.
Iwan Ramdani, kepala kantor pencarian dan penyelamatan Ternate, mengonfirmasi berita tersebut kepada ST dan mengatakan jenazah kedua pendaki itu ditemukan sekitar 50 meter dari puncak gunung. Ia menambahkan bahwa jenazah telah dievakuasi dan sedang dibawa turun dari gunung.

Risman Umar, seorang warga yang ikut serta dalam operasi penyelamatan, mengatakan kepada ST sebelum jenazah dievakuasi: “Kedua korban tertimbun di bawah puing-puing. Dua bongkahan batu besar menindih dan menghancurkan tubuh mereka.
“Mereka pertama kali ditemukan oleh tim penyelamat sekitar pukul 12.

40 siang. Setengah dari jenazah mereka tertimbun abu vulkanik. Evakuasi tidak dapat dilakukan karena hujan lebat, yang membuat material vulkanik menjadi tidak stabil dan rentan longsor.


Dalam rekaman yang dilihat oleh ST, tim penyelamat Indonesia sedang bekerja di lereng curam yang tertutup abu vulkanik hitam Abu vulkanik di dekat puncak gunung saat hujan dan kabut menyelimuti gunung tersebut.
Para tentara, petugas kepolisian, dan relawan setempat berkumpul di sekitar lubang sempit di tumpukan abu tempat kedua pendaki itu diduga tertimbun. Sebagian menggali dengan tangan, sementara yang lain berdiri di dekatnya di lereng yang licin.

Kedua warga Singapura tersebut merupakan bagian dari rombongan yang terdiri dari 20 orang – sembilan warga Singapura dan 11 warga Indonesia – yang melakukan pendakian pada 7 Mei meskipun ada larangan pendakian yang diberlakukan oleh pihak berwenang setempat sejak 17 April serta zona larangan masuk seluas 4 km di sekitar kawah.
Kedua pendaki tersebut tidak terlihat lagi sejak Gunung Dukono meletus pada pagi hari tanggal 8 Mei, yang menghujani para pendaki di dekat puncak dengan batu panas, abu, dan puing-puing vulkanik. Seorang wanita Indonesia ditemukan tewas pada 9 Mei.

Para pendaki lainnya dievakuasi dari gunung berapi tersebut.
Kementerian Luar Negeri Singapura mengatakan dalam sebuah pernyataan pada 9 Mei bahwa tujuh warga Singapura yang dievakuasi sedang dalam perjalanan ke Jakarta dan diperkirakan akan kembali ke Singapura pada 10 Mei.
Upaya pencarian dan penyelamatan pada 10 Mei diwarnai dengan Kesulitan sejak awal.

Rintangan pertama muncul jauh sebelum tim penyelamat dapat mencapai kawah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.
Tepat setelah fajar, tim pencarian dan penyelamatan gabungan Indonesia kembali berangkat menuju Gunung Dukono untuk mencari dua pendaki yang hilang.
Namun, hujan lebat semalam telah mengubah jalan tanah sempit menuju gunung itu menjadi lumpur yang dalam.

Dari pos pemantauan gunung berapi utama di Desa Mamuya, jaraknya sekitar 10 km ke pos pengamatan pertama di kaki Gunung Dukono. Rute tersebut melintasi hutan lebat dan perkebunan, dan sebagian besar jalurnya hanya dapat dilalui melalui jalan tanah yang bergelombang.
Tim pencarian Indonesia melanjutkan upaya pada 10 Mei untuk menemukan dua pendaki asal Singapura di dekat puncak Gunung Dukono.

— FOTO: BASARNAS
Pada pagi hari tanggal 10 Mei, perjalanan itu pun ternyata sulit, seperti yang ditemukan oleh ST. Sekitar 5 km dari Mamuya, sepeda motor yang ditumpangi seorang jurnalis ST terpaksa berbalik arah setelah jalan menjadi tidak dapat dilalui akibat banjir dan lumpur tebal yang ditinggalkan oleh ra in.
Di bagian gunung yang lebih tinggi, kondisinya pun tak lebih baik.

“Tim penyelamat telah mencapai Pos 5, yang berjarak sekitar 1 km dari kawah, tetapi mereka telah mundur sedikit ke arah tempat penampungan karena hujan dan banjir di sana,” kata Mochamad Thilio, seorang perwira Brimob asal Tobelo yang bertugas mengoordinasikan komunikasi dengan tim tersebut.
Dua gundukan kecil pasir vulkanik di dekat kawah Gunung Dukono di Indonesia, hanya 3 meter dari tempat seorang wanita Indonesia ditemukan tewas, menjadi fokus upaya evakuasi.
Badan Pencarian dan Penyelamatan Nasional (Basarnas) Indonesia mengatakan pada 10 Mei bahwa 150 personel telah dikerahkan, dibagi menjadi empat unit pencarian dan penyelamatan, untuk menyisir area seluas sekitar 1,25 km dari titik terakhir kali para pendaki terlihat.

Dalam konferensi pers sebelum pencarian dilanjutkan, Iwan mengatakan bahwa operasi pada 10 Mei difokuskan pada area di sekitar tepi kawah.
“Kami berharap kedua warga negara asing tersebut dapat ditemukan pada hari ketiga operasi ini,” katanya.
Iwan mengatakan bahwa tim penyelamat Para petugas bekerja dalam kondisi berbahaya karena gunung berapi tersebut terus meletus secara sporadis.

“Keselamatan tim penyelamat tetap menjadi prioritas karena kondisi cuaca dan aktivitas gunung berapi terus menghasilkan abu panas serta material lainnya,” katanya.
Anggota tim penyelamat gabungan menemukan wanita asal Indonesia tersebut sekitar pukul 14.30 waktu setempat pada 9 Mei, sekitar 50 meter dari tepi kawah.

Hujan lebat memaksa tim penyelamat menghentikan pekerjaan dan berlindung setelah berjam-jam menyisir pasir vulkanik yang dalam. Ketika hujan mereda, hanya bagian bawah tubuh wanita tersebut, dari kaki hingga pinggang, yang terlihat di atas abu.
Jenazahnya dievakuasi dan dibawa ke pos komando letusan sebelum dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Tobelo.

Seiring berkurangnya cahaya siang dan aktivitas vulkanik yang masih tinggi, tim memutuskan untuk menunda pekerjaan lebih lanjut.
Rekaman yang dirilis oleh lembaga tersebut memperlihatkan lebih dari selusin petugas penyelamat Indonesia bergerak berbaris satu per satu melintasi hutan pegunungan yang lebat, dengan helm dan seragam oranye mereka yang mencolok berlatar belakang pakis raksasa dan pepohonan yang tertutup lumut.
Di jalur yang sempit dan berlumpur, mereka melangkah dengan hati-hati melewati batang-batang kayu tumbang dan tanah vulkanik yang licin sambil mengangkut korban dengan tandu menuruni lereng gunung.

Adegan tersebut menggambarkan betapa sulitnya operasi penyelamatan korban letusan Gunung Dukono, sebuah gunung berapi aktif di pulau terpencil Halmahera di Indonesia bagian timur.