Indonesia memperkuat perencanaan tenaga kerja kesehatan melalui analisis pasar tenaga kerja
Liga335 – Indonesia sedang berupaya mengatasi kesenjangan yang telah berlangsung lama dalam tenaga kerja kesehatan, termasuk kekurangan tenaga kerja, ketidaksesuaian keterampilan, dan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata di berbagai wilayah. Hanya 78,1% rumah sakit umum yang memiliki ketersediaan lengkap dari tujuh jenis spesialis medis dasar, yaitu radiologi, anestesiologi, patologi klinis, bedah, pediatri, obstetri dan ginekologi, serta penyakit dalam. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan akses terhadap layanan spesialis di seluruh negeri.
Pada tahun 2032, Kementerian Kesehatan memperkirakan Indonesia akan kekurangan sekitar 65.000 spesialis medis seiring meningkatnya permintaan akibat pertumbuhan penduduk dan beban penyakit yang semakin berat. Di tingkat pelayanan kesehatan primer, hanya 65% pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang memenuhi persyaratan minimum untuk sembilan kategori tenaga kesehatan dasar: dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, petugas promosi kesehatan, petugas kesehatan lingkungan, ahli gizi, apoteker, dan teknisi laboratorium medis.
Untuk menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan, bersama Dengan dukungan dari , inisiatif ini sedang mengembangkan Analisis Pasar Tenaga Kerja Kesehatan (HLMA) untuk memperkuat kebijakan tenaga kerja kesehatan yang berbasis bukti. Pendekatan ini menelaah seluruh pasar tenaga kerja kesehatan secara komprehensif, dengan menganalisis bagaimana tenaga kesehatan dilatih, dipekerjakan, didistribusikan, dan dipertahankan di seluruh sistem.
Inisiatif ini dimulai dengan lokakarya multipihak pada 8 Desember 2025, yang dilanjutkan dengan rapat peluncuran resmi pada 9 Desember 2025.
Kementerian mengumpulkan para direktur dari Direktorat Jenderal Tenaga Kerja Kesehatan dan tim teknis untuk meninjau isu-isu prioritas terkait tenaga kerja, menyempurnakan pertanyaan kebijakan, menyepakati persyaratan data, serta menetapkan jadwal indikatif untuk periode analisis Januari–Juni 2026. WHO mendukung diskusi-diskusi ini dengan membantu mengklarifikasi hasil yang diharapkan dan mendefinisikan pendekatan teknis.
Kementerian Kesehatan kini akan memimpin pengumpulan data kuantitatif yang mencakup kapasitas pendidikan dan pelatihan, jumlah dan distribusi tenaga kesehatan, perekrutan dan lowongan pekerjaan, serta tingkat pengunduran diri serta migrasi, remunerasi, dan penyediaan layanan di seluruh layanan kesehatan primer dan rumah sakit.
WHO akan memberikan bantuan teknis selama proses pemetaan data, validasi, dan analisis awal untuk mengidentifikasi tren awal serta mendukung dialog kebijakan.
Dr. Yuli Farianti, Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan, secara resmi membuka acara peluncuran Analisis Pasar Tenaga Kerja Kesehatan pada 9 Desember 2025.
Sumber: Kementerian Kesehatan, Indonesia
Dr. Yuli Farianti, Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan di Kementerian Kesehatan, menekankan pentingnya pekerjaan ini. “Analisis ini merupakan landasan penting bagi kebijakan tenaga kesehatan di masa depan.
Saya sepenuhnya mendukung proses ini dan mendorong semua pemangku kepentingan untuk berkontribusi secara aktif serta memastikan bahwa data yang digunakan berkualitas tinggi, sehingga analisis kebijakan yang dihasilkan kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan untuk memperkuat tenaga kesehatan Indonesia,” ujarnya.
Bagi Indonesia, HLMA akan memungkinkan para pembuat kebijakan untuk mengembangkan solusi yang tepat sasaran guna mengatasi kekurangan dan kesenjangan distribusi. Seiring berjalannya waktu, hal ini berkontribusi pada terbentuknya sistem kesehatan yang lebih kuat dan tangguh, dengan akses yang lebih terjamin terhadap layanan berkualitas bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Ditulis oleh Zakiyah Eke, Petugas Profesional Nasional (Tenaga Kesehatan), WHO Indonesia.