Terlalu panas untuk ditangani: Harga cabai memicu inflasi bulanan di Indonesia
Slot online terpercaya – Orang Indonesia mengonsumsi saus pedas yang dikenal sebagai sambal hampir di setiap kali makan
Orang Indonesia mengonsumsi saus pedas yang dikenal sebagai sambal hampir di setiap kali makan
Inflasi bulanan di Indonesia naik dua kali lipat pada Mei, didorong oleh kenaikan harga bahan pangan dan khususnya cabai di negara yang gemar mengonsumsi sambal ini, demikian disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa.
Inflasi bulanan naik menjadi 0,28 persen, lebih dari dua kali lipat angka pada bulan April, kata pejabat Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini kepada wartawan di Jakarta.
Inflasi untuk kelompok barang makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, katanya.
“Komoditas utama yang mendorong inflasi dalam kategori ini adalah cabai merah, dengan kontribusi inflasi sebesar 0,08 persen; minyak goreng dan bawang merah, masing-masing berkontribusi 0,04 persen; tomat sebesar 0,03 persen; serta beras sebesar 0,02 persen,” katanya dalam konferensi pers.
Orang Indonesia mengonsumsi sambal—saus pedas yang terbuat dari cabai, bawang putih, bawang merah, dan rempah-rempah—hampir di setiap kali makan.
“Komoditas-komoditas ini memang termasuk dalam kategori yang harganya fluktuatif “harga barang,” tambah Pudji.
“Hal ini bersifat musiman karena adanya hari raya keagamaan besar, di antara faktor-faktor lainnya, yang menjadi salah satu pemicu perubahan permintaan masyarakat.”
Inflasi tahunan tercatat sebesar 3,08 persen, dan 1,35 persen sejak awal tahun, kata pejabat tersebut.
Bank sentral negara ini, Bank Indonesia, telah menetapkan target inflasi sebesar 2,5 persen untuk tahun ini dan tahun depan, dengan toleransi penyimpangan satu poin persentase ke atas maupun ke bawah.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026 — pertumbuhan terkuat sejak kuartal ketiga 2022, menurut BPS.
Namun, nilai tukar rupiah telah anjlok ke level lebih dari 17.800 rupiah per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah, yang menurut Bank Indonesia disebabkan oleh ketegangan global dan faktor musiman, termasuk tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan serta jemaah haji yang bepergian ke luar negeri.