Indonesia mendorong penerapan ekonomi sirkular di industri baterai kendaraan listrik
Liga335 – Indonesia mendorong ekonomi sirkular untuk industri baterai kendaraan listrik
Kami juga mempertimbangkan regulasi internasional, seperti EU Battery Passport.
Berita terkait: Pemerintah libatkan UMKM komponen otomotif dalam ekosistem kendaraan listrik
Berita terkait: Indonesia tunda peluncuran insentif sepeda motor listrik hingga bulan depan
Jakarta (ANTARA) – Indonesia telah bertransisi menuju ekonomi sirkular untuk mengatasi tantangan yang muncul dari produksi baterai kendaraan listrik (EV), kata seorang pejabat di Kementerian Investasi dan Hilirisasi di sini pada Rabu.Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilir Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Ahmad Faisal Suralaga, menyatakan bahwa secara global, pasokan baterai kendaraan listrik menghadapi beberapa tantangan, termasuk ketersediaan mineral, kebutuhan dekarbonisasi, dan kekhawatiran terkait keberlanjutan sumber daya.”
Untuk mencapai keberlanjutan, pemerintah Indonesia telah memberlakukan kebijakan yang tidak hanya sekadar mengekstraksi sumber daya untuk produksi baterai; kini kami bergerak ke arah daur ulang,” katanya du dalam rangka Forum Kemitraan Ekonomi Korea-Indonesia di Jakarta. Saat ini, transisi global menuju energi terbarukan dan elektrifikasi sedang berlangsung dengan sangat cepat. Baterai telah menjadi komponen penting dalam daya saing industri, ketahanan energi, dan pembangunan berkelanjutan.
Di saat yang sama, peningkatan produksi dan penggunaan baterai menghadirkan tantangan baru terkait efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah, dan kelestarian lingkungan. Ahmad mencatat bahwa pemerintah Indonesia memiliki regulasi komprehensif bagi perusahaan yang mendukung daur ulang baterai, yang juga akan selaras dengan regulasi yang diadopsi secara global.Menurutnya, daur ulang baterai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok produksi baterai kendaraan listrik (EV), sehingga memungkinkan negara ini terintegrasi sepenuhnya dalam produksi baterai, mulai dari persiapan bahan baku hingga pembuatan produk akhir.
Untuk mendukung inisiatif ini, ia menyatakan bahwa Indonesia telah bertransformasi dari negara pengekspor bahan baku menjadi negara yang menghasilkan “Nilai tambah yang tinggi dicapai melalui hilirisasi industri, di mana bahan baku diolah menjadi produk jadi dengan nilai yang lebih tinggi. Ahmad menambahkan bahwa Indonesia juga sedang mereformasi kebijakan bisnisnya untuk memitigasi risiko serta menerapkan sistem terintegrasi guna mempermudah proses bagi para investor melalui sistem perizinan satu atap.”“Kami juga mempertimbangkan regulasi internasional, seperti EU Battery Passport, yang telah diterapkan di beberapa negara.
Di masa depan, mungkin kita dapat membahas bagaimana Indonesia dapat menyelaraskan diri dengan standar-standar internasional tersebut,” ujarnya.Pada kesempatan tersebut, ia juga mengundang investor Korea Selatan untuk membawa teknologi yang mendukung ekonomi sirkular serta melengkapi rantai pasokan mulai dari ekstraksi nikel hingga fasilitas daur ulang baterai.