Ibu kota masa depan Indonesia kini dihadapkan pada berbagai keraguan

Ibu kota masa depan Indonesia kini dihadapkan pada berbagai keraguan

Ibu kota masa depan Indonesia kini dihadapkan pada berbagai keraguan

Liga335 – Ibu kota masa depan Indonesia menghadapi keraguan di masa kini toggle caption Claire Harbage/ NUSANTARA, Indonesia — Jauh di dalam hutan Pulau Kalimantan, Indonesia, pembangunan ibu kota baru yang futuristik sedang berlangsung; kota ini akan ditenagai oleh energi terbarukan dan dijalankan dengan teknologi canggih. Ibu kota Indonesia saat ini, Jakarta — yang kini menjadi kota terbesar di dunia — tercemar, padat penduduk, dan sedang tenggelam. Maka pada tahun 2019, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana ambisius: membangun Nusantara, ibu kota baru, dari nol.

Lokasinya terletak sekitar dua jam perjalanan darat dari kota tetangga Balikpapan. Pembangunan Nusantara dimulai pada tahun 2022, dan kawasan pusat pemerintahan kota tersebut hampir selesai. Kawasan ini menampilkan taman hijau yang luas, dikelilingi oleh gedung-gedung perkantoran berwarna putih dengan tanaman yang menjuntai di balkonnya, sebuah bank yang tampak seperti pesawat luar angkasa, dan pusat kota — sebuah struktur logam setinggi 250 kaki berbentuk Garuda, burung mitos mirip elang yang merupakan lambang nasional negara ini.

Menara dengan bentang sayap 500 kaki menjulang tinggi di atas istana kepresidenan. toggle caption Claire Harbage/ Namun, ada kekhawatiran bahwa kemajuan proyek senilai lebih dari $30 miliar ini berjalan lambat. Masalah logistik, tantangan pendanaan, dan pemilihan presiden telah menunda jadwal pengerjaan.

Para kritikus lokal khawatir bahwa pembangunan tersebut dapat merusak lingkungan dan berdampak buruk pada penduduk asli di sekitarnya. Pesan Sponsor Saat ini, wilayah metropolitan yang lebih luas mencakup sekitar 150.000 orang — campuran antara pekerja konstruksi dan desa-desa yang telah lama berdiri.

Namun, pusat kota baru ini hanya dihuni oleh sekitar 10.000 penduduk, termasuk sekitar seribu pegawai negeri. Nusantara merupakan proyek andalan mantan Presiden Joko Widodo.

Sejak pemimpin saat ini, Prabowo Subianto, menjabat pada Oktober 2024, beberapa kritikus proyek tersebut mempertanyakan apakah ia memiliki antusiasme yang sama. Pendanaan negara untuk proyek ini dipotong setengahnya pada tahun 2026 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Prabowo melakukan kunjungan pertamanya ke lokasi tersebut pada Januari ini, lebih dari setahun setelah dilantik.

“Ibu Kota Politik” pada tahun 2028 Ketidakpastian ini telah memicu kekhawatiran, terutama di media internasional, bahwa Nusantara bisa menjadi “kota hantu.” Namun Basuki Hadimuljono, Kepala Otoritas Ibu Kota Nusantara, menepis kekhawatiran tersebut dengan mengatakan, “Jangan khawatir. Ini akan dilanjutkan.”

toggle caption Claire Harbage/ Tahun lalu, Prabowo menandatangani peraturan presiden yang menetapkan Nusantara sebagai “ibu kota politik” Indonesia pada tahun 2028 — berbeda dari istilah sebelumnya yang menyebutnya sebagai “ibu kota negara.” Perubahan ini membingungkan para anggota parlemen dan pakar kebijakan lainnya yang khawatir proyek ini akan kurang mendapat perhatian. Bagi Basuki, peraturan tersebut merupakan simbol dukungan dari presiden.

Setelah gedung-gedung legislatif dan yudikatif selesai dibangun tahun depan, katanya, presiden berencana untuk akhirnya pindah ke Nusantara pada tahun 2028. Sementara itu, ada rencana untuk memindahkan 4.100 pegawai negeri sipil lagi ke kota tersebut tahun ini.

Namun, target ini masih jauh dari pemindahan sekitar 1,2 juta penduduk h pada tahun 2029. Infrastruktur penting seperti sekolah, perumahan bagi pegawai negeri yang sudah menikah, mal, dan tempat hiburan lainnya masih belum tersedia. Pesan Sponsor “Korban tak bersuara” toggle caption Claire Harbage/ Dan tidak semua orang senang dengan pembangunan ini.

Kelompok lingkungan lokal seperti WALHI menyatakan bahwa pembangunan telah menyebabkan deforestasi hutan mangrove di sekitar Teluk Balikpapan. “Yang paling terdampak adalah apa yang kami sebut korban tak bersuara — ekosistem mangrove, serta monyet hidung panjang dan owa Kalimantan,” kata Fathur Roziqin Fen, direktur eksekutif WALHI Kalimantan Timur. Owa Kalimantan adalah primata yang terancam punah yang hidup di hutan di Provinsi Kalimantan Timur.

toggle caption Claire Harbage/ “Sulit dipercaya mimpi bahwa pembangunan ini akan menjadi kota pintar, kota hutan, dan kota hijau,” kata Fathur. “Sulit dipercaya bahwa masa depan [Nusantara] akan inklusif.” Di luar kota, bendungan dan instalasi pengolahan air yang baru dibangun menyediakan sebagian besar air bersih bagi kota tersebut.

air minum berwarna merah — sebuah kemewahan yang tak ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Namun, instalasi tersebut dibangun di pinggiran Desa Sepaku Lama, tempat banyak masyarakat adat dari suku Balik telah tinggal selama bergenerasi-generasi. toggle caption Claire Harbage/ Sebagai bagian dari bendungan dan upaya mitigasi banjir, tembok beton yang dibangun di sepanjang Sungai Sepaku menghalangi desa tersebut untuk menggunakan air sungai guna mandi dan mencuci pakaian seperti yang biasa mereka lakukan.

Alfian Brahmana Putra, operator pompa di instalasi pengolahan air, mengatakan bahwa kota menyediakan air gratis untuk desa tersebut, tetapi warga bertanggung jawab untuk memasang pipa air di rumah mereka. Banyak keluarga memilih menggunakan air hujan atau membeli tangki air yang diantarkan ke rumah mereka. Syamsiah (51 tahun) dan suaminya, Pandi, yang keduanya berasal dari suku Balik dan seperti banyak orang Indonesia hanya memiliki satu nama, tinggal di rumah blok beton di lahan pertanian mereka di Desa Sepaku Lama.

Di sini, mereka menanam singkong, pisang, kacang panjang, pohon buah-buahan, dan banyak tanaman lainnya. Bagi mereka, tanah ini adalah lebih dari sekadar mata pencaharian — ini adalah sejarah keluarga mereka. tampilkan keterangan Claire Harbage/ Kedua orang tua dan kakek-nenek Syamsiah dimakamkan di pemakaman desa.

Pesan Sponsor Tak jauh dari sana, sebuah batu berbentuk badak di sungai — tempat suci bagi masyarakat Balik yang disebut Batu Badok — kini berada di dalam kompleks pengolahan air, terpisah dari komunitas. Janji besar dan pertanyaan besar Nusantara direncanakan mencakup area seluas hampir 1.000 mil persegi, sekitar tiga kali luas Kota New York.

Seiring perluasan konstruksi, desa-desa di sekitarnya, termasuk desa Syamsiah dan Pandi, pada akhirnya akan terserap. Pejabat kota telah memberitahu mereka bahwa pada akhirnya mereka harus menjual tanah mereka untuk proyek tersebut. toggle caption Claire Harbage/ Namun Pandi, suami Syamsiah yang berusia 53 tahun, mengatakan dia tidak tertarik untuk menjual.

“Mungkin pemerintah bisa memberi kompensasi untuk tanaman atau bahkan rumah. Tapi kenangan saya, sejarah saya, apakah pemerintah bisa menggantikannya?” katanya.

Dia dan istrinya juga s “Mereka tidak punya tempat lain untuk pergi jika harus pindah. ‘Mereka sudah punya ibu kota. Mengapa harus membangun yang baru?

Mengapa mereka tidak membiarkan kami tinggal di sini dengan damai saja?’ tambah Pandi. Para pejabat berharap pemindahan ibu kota akan meringankan sebagian beban pertumbuhan Jakarta, yang kini menjadi kota terpadat di dunia dengan lebih dari 40 juta penduduk.

Namun, meski Indonesia sedang berjuang mengatasi tantangan Jakarta, Nusantara diperkirakan hanya akan dihuni oleh 2 juta orang pada tahun 2045. Untuk saat ini, Nusantara tetap menjadi janji yang sangat besar — sekaligus pertanyaan yang sangat besar.