Ekonomi Indonesia tumbuh 5,39%, tertinggi di antara negara-negara G20: Menteri
Taruhan bola – Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,39%, tertinggi di antara negara-negara G20: Menteri
Berita terkait: Presiden Prabowo menggalang dukungan para pengusaha terkemuka untuk “Indonesia Incorporated”
Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,39 persen pada kuartal keempat tahun 2025, tertinggi di antara negara-negara G20.Ini adalah yang tertinggi di antara negara-negara G20. Selain itu, pertumbuhan tahunan sebesar 5,11 persen juga sangat baik,” katanya setelah menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan di Jakarta pada Rabu (11 Februari).
Di sektor riil, Hartarto menjelaskan bahwa aktivitas manufaktur tetap berada di zona ekspansi, dengan indeks sebesar 52,6. Selain itu, tingkat kepercayaan konsumen pada Januari juga menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga tumbuh menjadi 127 pada Januari 2026, naik dari 123,5 pada bulan sebelumnya, tambahnya.
Sementara itu, menteri tersebut menjelaskan bahwa Kinerja konsumsi domestik juga mencatat tren positif. Penjualan riil mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 7,9 persen, meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan 3,5 persen pada Desember tahun lalu. Dari segi neraca perdagangan, pada Desember 2025 tercatat surplus sebesar US$2,51 miliar, menandai surplus untuk bulan ke-68 berturut-turut.
Selain itu, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp1.931,2 triliun (US$111,7 miliar). “Selain itu, cadangan devisa tetap tinggi di angka US$154,6 miliar, dan pertumbuhan kredit mencapai 9,69 persen,” lanjut Hartarto.
Ia kemudian menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia dari berbagai lembaga pemeringkat internasional tetap berada pada tingkat investasi. Namun, pemerintah mempertimbangkan prospek negatif dari Moody’s untuk diantisipasi dengan langkah-langkah kebijakan yang tepat. Lembaga pemeringkat Moody’s mengumumkan pada 5 Februari bahwa pihaknya akan mempertahankan peringkat kredit suverén Indonesia pada Baa2 dan menyesuaikan prospeknya dari stabil menjadi negatif.
Sejalan dengan langkah ini, Moody’s juga merevisi prospeknya menjadi negatif untuk lima bank Indonesia, termasuk Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).