Stasiun Harjamukti dan Dukuh Atas Jadi Titik Terpadat LRT Jabodebek

Jakarta–DepokLRT Jabodebek mencatat Stasiun Harjamukti dan Stasiun Dukuh Atas sebagai titik terpadat arus penumpang. Dua simpul ini merepresentasikan dua wajah perjalanan harian: awal perjalanan dari kawasan hunian di timur–selatan dan tujuan akhir di pusat aktivitas kota.

Kepadatan terjadi terutama pada jam sibuk pagi dan sore, ketika ribuan komuter bergerak serempak—mengejar waktu, menautkan moda, dan berharap perjalanan tetap lancar.

Mengapa Harjamukti dan Dukuh Atas?

Stasiun Harjamukti menjadi magnet karena berperan sebagai terminal hulu bagi warga Depok dan sekitarnya. Banyak penumpang memulai perjalanan dari sini, memanfaatkan park and ride serta konektivitas permukiman.

Sementara Stasiun Dukuh Atas adalah simpul integrasi. Di kawasan ini, LRT bertemui KRL, MRT, TransJakarta, hingga akses pejalan kaki—membuat arus keluar-masuk penumpang memuncak, khususnya sore hari saat jam pulang kerja.

Keamanan Publik dan Manajemen Arus

Pengelola LRT menyiagakan petugas tambahan, pengaturan antrean, serta pengumuman berkala untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan. Pengaturan pintu peron, interval keberangkatan, dan alur naik-turun penumpang terus disesuaikan agar kepadatan tidak berujung desak-desakan.

Upaya ini krusial, karena kepadatan tinggi menuntut disiplin bersama—penumpang yang tertib, informasi yang jelas, dan respons cepat dari petugas.

Human Interest: Cerita di Jam Sibuk

Di peron Harjamukti, ada pekerja yang berangkat sebelum matahari tinggi demi tiba tepat waktu. Di Dukuh Atas, ada langkah-langkah cepat yang berpacu dengan sinyal kereta lanjutan. Kepadatan memang melelahkan, namun juga menandai kepercayaan publik pada transportasi massal sebagai tulang punggung mobilitas.

Banyak penumpang menyebut kepastian waktu tempuh sebagai alasan utama memilih LRT—meski harus berbagi ruang di jam sibuk.

Tantangan dan Perbaikan Berkelanjutan

Kepadatan di dua stasiun ini menjadi indikator permintaan. Pengelola terus mengevaluasi penambahan frekuensi pada jam puncak, optimalisasi informasi real-time, serta peningkatan fasilitas pendukung seperti area tunggu dan akses pejalan kaki.

Integrasi antarmoda di Dukuh Atas juga menjadi fokus, agar perpindahan penumpang lebih mulus dan waktu transit lebih singkat.

Penutup

Menjadi titik terpadat bukan semata tantangan, tetapi cermin kebutuhan kota. Harjamukti dan Dukuh Atas menunjukkan ke mana orang berangkat dan ke mana mereka pulang. Dengan manajemen arus yang adaptif dan partisipasi penumpang yang tertib, LRT Jabodebek dapat terus menjadi pilihan aman, cepat, dan manusiawi.