Pemkab: Destinasi Wisata Aceh Tamiang Masih Lumpuh Pascabencana

Aceh Tamiang — Sisa lumpur masih mengering di pelataran, papan penunjuk kusam, dan akses menuju sejumlah titik wisata belum sepenuhnya pulih. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menyatakan sejumlah destinasi wisata masih lumpuh pascabencana, menyisakan dampak berlapis—bukan hanya pada lanskap alam, tetapi juga pada penghidupan warga yang menggantungkan nafkah dari sektor pariwisata.

Bagi pelaku usaha kecil di sekitar objek wisata, hari-hari setelah bencana terasa panjang. “Belum ada pengunjung,” kata seorang pedagang, singkat namun sarat makna.


Kerusakan Fisik dan Akses

Pemkab menjelaskan, kerusakan mencakup akses jalan, fasilitas pendukung, dan lingkungan sekitar objek wisata. Beberapa jalur masih rawan, sementara sarana kebersihan dan keamanan perlu pemulihan agar pengunjung dapat kembali dengan aman.

Upaya pembersihan terus berjalan, namun skala kerusakan membuat pemulihan tidak bisa instan. Prioritas diberikan pada keselamatan, sanitasi, dan akses dasar.


Dampak Ekonomi yang Terasa

Pariwisata adalah denyut ekonomi lokal. Saat destinasi lumpuh, rantai nafkah ikut terhenti—dari pemandu, pedagang, pengelola homestay, hingga pengrajin. Pemkab mengakui, pemulihan pariwisata berarti juga pemulihan pendapatan keluarga.

Karena itu, bantuan darurat dipadukan dengan rencana pemulihan bertahap agar warga tidak kehilangan sumber penghidupan terlalu lama.


Keamanan Publik Jadi Prioritas

Pemkab menegaskan pembukaan kembali destinasi akan dilakukan bertahap dan berbasis asesmen risiko. Keselamatan pengunjung dan warga setempat menjadi pertimbangan utama—mulai dari stabilitas tanah, kualitas air, hingga kesiapan layanan darurat.

Pendekatan ini penting agar pemulihan tidak memunculkan risiko baru.


Dimensi Kemanusiaan: Menjaga Martabat Warga

Di balik laporan kerusakan, ada cerita manusia. Banyak warga terpaksa beralih sementara ke pekerjaan lain, atau bertahan dengan tabungan yang menipis. Pemulihan yang empatik berarti mendengar kebutuhan warga, memberi dukungan transisi, dan melibatkan komunitas lokal dalam proses perbaikan.

Seorang relawan mengatakan, “Wisata akan kembali, tapi orang-orangnya harus pulih dulu.” Kalimat ini merangkum urutan yang tepat.


Langkah Pemulihan

Pemkab memetakan langkah-langkah:

  • pembersihan dan perbaikan akses,

  • rehabilitasi fasilitas dasar,

  • dukungan bagi pelaku UMKM wisata,

  • serta promosi ulang setelah destinasi dinyatakan aman.

Kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat dibutuhkan untuk mempercepat pendanaan dan teknis.


Penutup

Lumpuhnya destinasi wisata Aceh Tamiang pascabencana adalah pengingat bahwa bencana berdampak jauh melampaui hari kejadian. Pemulihan pariwisata bukan hanya soal membuka kembali tempat, tetapi menghidupkan kembali harapan dan penghidupan.

Dengan pemulihan yang aman, bertahap, dan manusiawi, Aceh Tamiang berpeluang bangkit—perlahan, namun pasti.