initogel – Di sebuah tenda putih yang berdiri di antara puing dan lumpur yang mulai mengering, antrean warga mengular pelan. Ada lansia yang menggenggam obat, ibu-ibu dengan anak di pangkuan, hingga relawan yang terus tersenyum meski lelah. Di tengah situasi pascabencana di berbagai wilayah Sumatra, Badan Amil Zakat Nasional menghadirkan sesuatu yang sangat dibutuhkan: layanan kesehatan bagi sekitar 4.000 penyintas bencana.
Bagi mereka yang selamat, bantuan ini bukan hanya tentang pengobatan. Ia adalah rasa dipedulikan, bahwa di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ada tangan yang hadir untuk merawat.
Kesehatan di Tengah Luka
Bencana tidak berhenti saat air surut atau tanah berhenti bergerak. Justru setelahnya, masalah kesehatan mulai bermunculan—infeksi kulit, gangguan pernapasan, penyakit pencernaan, hingga tekanan psikologis yang tak kasatmata.
Baznas menurunkan tim kesehatan dan relawan ke sejumlah titik terdampak di Sumatra. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan umum, pengobatan ringan, pemberian obat-obatan, hingga edukasi kesehatan dasar.
“Banyak warga menahan sakit karena fasilitas kesehatan jauh atau rusak,” ujar seorang tenaga medis relawan. “Kami datang untuk mendekatkan layanan.”
Menjangkau yang Sulit Dijangkau
Sebagian lokasi terdampak berada di daerah dengan akses terbatas. Jalan rusak, jembatan terputus, dan cuaca yang tak menentu membuat distribusi layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri. Namun tim tetap bergerak—membuka pos layanan di balai desa, sekolah darurat, hingga tenda pengungsian.
Bagi Pak Ahmad, warga lanjut usia, kehadiran layanan ini terasa seperti pertolongan tepat waktu. “Kalau harus ke kota, saya tidak sanggup,” katanya lirih. “Di sini saya bisa diperiksa.”
Perhatian pada Anak dan Kelompok Rentan
Anak-anak, ibu hamil, dan lansia menjadi prioritas. Pemeriksaan tumbuh kembang, penanganan keluhan ringan, serta edukasi kebersihan dilakukan dengan pendekatan ramah. Relawan berusaha menciptakan suasana tenang agar anak-anak tidak semakin tertekan.
“Anak-anak sering takut setelah bencana,” kata seorang relawan psikososial. “Kami ajak mereka bicara, bermain, supaya perlahan pulih.”
Pendekatan ini menegaskan bahwa kesehatan tidak hanya soal fisik, tetapi juga pemulihan mental dan rasa aman.
Amanah Zakat untuk Kemanusiaan
Baznas menegaskan bahwa layanan kesehatan ini merupakan bagian dari amanah zakat, infak, dan sedekah masyarakat yang dikelola untuk kepentingan kemanusiaan. Saat bencana terjadi, kebutuhan kesehatan menjadi prioritas utama—karena tanpa tubuh yang sehat, pemulihan sulit berjalan.
“Menjaga kesehatan penyintas adalah fondasi pemulihan,” ujar seorang pengelola program. “Kami ingin mereka kuat menghadapi hari esok.”
Sinergi di Lapangan
Pelaksanaan layanan kesehatan dilakukan dengan koordinasi bersama pemerintah daerah, fasilitas kesehatan setempat, dan relawan lokal. Sinergi ini memastikan layanan berjalan tertib, tidak tumpang tindih, dan benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan.
Di lapangan, kolaborasi terasa nyata—tenaga medis memeriksa, relawan mendata, warga saling membantu mengatur antrean.
Lebih dari Sekadar Obat
Bagi banyak penyintas, kunjungan ke pos kesehatan juga menjadi ruang untuk bercerita. Tentang rumah yang hilang, tentang malam-malam tanpa tidur, tentang kekhawatiran akan masa depan. Tenaga medis mendengarkan, menenangkan, dan menguatkan.
“Kadang yang mereka butuhkan hanya didengar,” ujar seorang dokter.
Menjaga Asa di Tengah Pemulihan
Empat ribu penyintas telah menerima layanan kesehatan. Angka itu besar, tetapi setiap orang di dalamnya memiliki kisah sendiri. Dari satu per satu pemeriksaan, Baznas berupaya menjaga asa—bahwa pemulihan adalah proses yang ditempuh bersama.
Di Sumatra, di antara reruntuhan dan tenda-tenda sementara, layanan kesehatan ini menjadi pengingat sederhana namun kuat: kemanusiaan tidak pernah absen.
Karena dalam setiap denyut nadi yang diperiksa dan setiap obat yang diberikan, ada pesan yang sama—bahwa hidup harus terus dijaga, dan harapan layak untuk dirawat.