Jakarta (initogel)—Pagi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) biasanya dipenuhi deru kendaraan dan langkah cepat para pekerja. Namun, pada akhir pekan ini, suasananya terasa berbeda. Di bawah langit Jakarta yang cerah, ratusan orang berkumpul dengan satu tujuan: menunjukkan solidaritas untuk para korban bencana alam di Sumatra. Di tengah kerumunan itu, dua nama besar musik Indonesia hadir bukan sebagai bintang panggung, melainkan sebagai sesama manusia—Andmesh Kamaleng dan D’MASIV.
Musik sebagai Bahasa Empati
Tanpa panggung megah dan tata cahaya berlebihan, Andmesh berdiri sederhana, memegang mikrofon dengan senyum hangat. Saat ia mulai menyanyikan lagu-lagu yang dikenal luas, suasana Bundaran HI mendadak hening. Beberapa pengunjung terlihat menutup mata, larut dalam lirik yang terasa lebih dalam dari biasanya.
“Musik itu menyatukan,” ujar Andmesh singkat di sela-sela kegiatan. “Kami datang ke sini bukan untuk tampil, tapi untuk menemani dan menguatkan saudara-saudara kita di Sumatra.”
Tak lama berselang, D’MASIV mengambil alih. Band yang dikenal dengan lagu-lagu bertema kemanusiaan dan persahabatan ini mengajak massa bernyanyi bersama. Tepuk tangan, senyum, dan bahkan air mata bercampur menjadi satu. Di ruang publik yang ikonik ini, musik menjelma bahasa empati yang tak membutuhkan terjemahan.
Gerakan Komunitas dari Jalanan Ibu Kota
Aksi solidaritas ini bukan sekadar penampilan musisi. Sejumlah komunitas relawan, penggiat sosial, hingga warga yang kebetulan melintas turut ambil bagian. Kotak donasi disebar, informasi penyaluran bantuan ditempel di papan sederhana, dan para relawan dengan sigap menjelaskan kebutuhan mendesak para korban—mulai dari logistik, pakaian layak pakai, hingga dukungan psikososial.
“Awalnya kami hanya ingin menggalang donasi kecil,” kata Rina, koordinator komunitas relawan yang terlibat. “Tapi kehadiran Andmesh dan D’MASIV membuat pesan ini menjangkau lebih banyak orang. Ini bukti bahwa solidaritas bisa lahir dari mana saja.”
Warga yang datang pun beragam: keluarga yang berolahraga pagi, pekerja yang singgah sejenak, hingga wisatawan. Banyak dari mereka akhirnya berhenti, menyimak, lalu ikut menyumbang. Ada yang menyelipkan uang, ada pula yang menawarkan diri menjadi relawan.
Sumatra dalam Doa dan Aksi Nyata
Bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan duka mendalam. Rumah rusak, akses terputus, dan kehidupan sehari-hari terganggu. Di Bundaran HI, nama-nama daerah itu disebut satu per satu—bukan untuk mengulang kesedihan, melainkan untuk menguatkan tekad membantu.
Rian, vokalis D’MASIV, menegaskan bahwa dukungan tidak boleh berhenti di simbol. “Yang terpenting adalah keberlanjutan. Donasi hari ini harus benar-benar sampai dan membantu pemulihan jangka panjang,” ujarnya. D’MASIV juga mengajak penggemar mereka untuk terus mengikuti informasi resmi penyaluran bantuan.
Ruang Publik, Ruang Kemanusiaan
Aksi ini mengingatkan bahwa ruang publik bukan hanya tempat berlalu-lalang, tetapi juga ruang kemanusiaan. Bundaran HI, yang kerap menjadi saksi berbagai ekspresi warga kota, kembali memainkan perannya sebagai titik temu solidaritas.
Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan doa bersama. Tidak ada sorak-sorai berlebihan, hanya tepuk tangan pelan dan pelukan antarrelawan. Donasi yang terkumpul dicatat rapi, siap disalurkan melalui jalur resmi dan komunitas tepercaya.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, hari itu Bundaran HI menjadi pengingat sederhana: ketika musik, komunitas, dan niat baik bertemu, harapan bisa tumbuh—bahkan dari persimpangan jalan paling sibuk sekalipun.