Papan iklan bertuliskan ‘I Must Die’ di Indonesia memicu reaksi keras terkait pesan yang mengarah pada bunuh diri

Papan iklan bertuliskan ‘I Must Die’ di Indonesia memicu reaksi keras terkait pesan yang mengarah pada bunuh diri

Papan iklan bertuliskan ‘I Must Die’ di Indonesia memicu reaksi keras terkait pesan yang mengarah pada bunuh diri

Liga335 daftar – 8 April 2026 – Papan iklan promosi untuk film horor “Aku Harus Mati” menuai kritik luas karena dikhawatirkan dapat memicu pikiran untuk bunuh diri, terutama di kalangan kelompok rentan seperti anak-anak, di tengah meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan pemuda negara ini. Poster-poster tersebut telah dipajang di papan iklan pinggir jalan di Jakarta dan beberapa kota lain sejak 27 Maret untuk mempromosikan film yang mulai tayang di bioskop pada 2 April. Menampilkan kalimat “I Must Die” dan “Sell My Soul for Wealth” dengan latar belakang makhluk bermata merah berwarna biru, papan iklan tersebut telah membuat para pegiat perlindungan anak khawatir, meskipun baru-baru ini telah diturunkan.

Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Diyah Puspitarini memperingatkan bahwa kalimat “I Must Die” dapat menormalisasi perilaku bunuh diri di kalangan anak-anak, yang mungkin belum memiliki kemampuan untuk memproses pesan-pesan semacam itu secara kritis. “Kata-kata semacam itu dapat memengaruhi kesehatan mental anak-anak karena mereka belum mampu mengatur [atau menafsirkan] informasi yang mereka terima dengan baik,” kata Diyah demikian disampaikan pada hari Senin. Ia menambahkan bahwa pesan-pesan tersebut dapat memicu kecenderungan bunuh diri pada anak-anak yang rentan, dengan mencatat bahwa Indonesia sudah menghadapi prevalensi bunuh diri anak yang relatif tinggi.

Menurut Survei Kesehatan Siswa Berbasis Sekolah Global (GSHS), yang dilakukan bekerja sama dengan pemerintah, proporsi anak-anak yang mengalami pikiran bunuh diri meningkat dari 5,2 persen pada tahun 2015 menjadi 8,5 persen pada tahun 2023. Selama periode yang sama, upaya bunuh diri meningkat dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen. KPAI mencatat setidaknya 115 kasus kematian akibat bunuh diri anak antara tahun 2023 dan 2025.

Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memperingatkan bahwa paparan berulang terhadap pesan-pesan semacam itu dapat menanamkan ide-ide berbahaya di alam bawah sadar anak-anak dan berpotensi menyebabkan tindakan menyakiti diri sendiri. “Bagi balita atau anak usia sekolah awal yang baru belajar membaca, frasa-frasa ini bermasalah. Anak-anak seharusnya didorong untuk menghargai hidup, namun poster-poster ini justru menyarankan cara mereka harus mati,” kata Piprim.

Ia juga menyoroti masalah kesehatan mental yang lebih luas Dalam konteks kesehatan, mengutip laporan Kementerian Kesehatan tanggal 9 Maret yang menunjukkan bahwa sekitar 10 persen anak-anak Indonesia menderita gangguan depresi dan kecemasan. “Iklan tidak boleh hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya yang lebih luas terhadap masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja yang rentan terhadap masalah kesehatan mental.” Pihak berwenang bertindak cepat untuk mencopot beberapa papan iklan setelah menerima keluhan masyarakat bahwa gambar-gambar tersebut mengganggu dan meresahkan pengguna jalan.

Setidaknya tiga papan iklan diturunkan di wilayah Barat dan Tengah. “Konten seperti ini, yang dibuat semata-mata untuk menarik perhatian publik melalui iklan yang tidak sensitif dan berdampak pada masyarakat, tidak boleh terulang,” kata Gubernur Pramono Anung pada Senin, seperti dikutip TribunJakarta.com.

Produser film Iwet Ramadhan mengatakan pada akhir pekan bahwa papan iklan akan diturunkan segera setelah masa promosinya berakhir, sambil mencatat bahwa reaksi publik berada di luar kendali para pembuat film. “Respons publik adalah sesuatu yang tidak dapat kami “Kita mungkin punya niat tertentu, tapi reaksi orang lain tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita,” katanya, seperti dilansir Kompas.com.