Indonesia memperkuat layanan WASH yang inklusif dan tangguh di fasilitas kesehatan.
Taruhan bola – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) sedang memperkuat upaya untuk meningkatkan layanan air, sanitasi, dan higiene (WASH) di fasilitas kesehatan, dengan tujuan meningkatkan keselamatan pasien, mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba (AMR), serta meningkatkan akses yang adil terhadap layanan kesehatan berkualitas.
Secara global, WASH yang tidak memadai di fasilitas kesehatan merupakan penyebab utama infeksi terkait perawatan kesehatan (HAI), yang berkontribusi signifikan terhadap AMR. Diperkirakan 15 dari setiap 100 pasien di negara berpendapatan rendah dan menengah, serta 7 dari setiap 100 pasien di negara berpendapatan tinggi, terinfeksi setidaknya satu HAI selama rawat inap.
Banyak infeksi ini resisten terhadap antibiotik yang umum digunakan, sehingga lebih sulit – dan terkadang tidak mungkin – untuk diobati. Di Indonesia, ketidakcukupan WASH di fasilitas kesehatan terus mengancam keselamatan pasien dan mempercepat AMR. Laporan Global Antimicrobial Resistance Use and Surveillance 2022 menunjukkan bahwa 77% sampel E.
coli di Indonesia. Sia resisten terhadap cephalosporin generasi ketiga dan 69% terhadap fluoroquinolon – dua antibiotik kritis untuk mengobati infeksi serius. Sebagai tanggapan, antara Januari dan Juli 2025, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan penilaian layanan WASH di 69 fasilitas kesehatan di Balikpapan, Padang, dan Provinsi DI Yogyakarta.
Hasil menunjukkan celah besar, termasuk ketidakhadiran prosedur operasional standar untuk WASH dan resistensi antimikroba (AMR), serta kapasitas tenaga kesehatan yang tidak memadai. Hanya 11% fasilitas yang memenuhi standar Kementerian Kesehatan. Ketidakmerataan sering kali terkait dengan perbedaan antara daerah perkotaan dan pedesaan, dan administrator rumah sakit sering kali menyebutkan kurangnya pedoman kesehatan yang jelas.
Seorang tenaga kesehatan membantu pasien yang menggunakan kursi roda dalam menjaga kebersihan tangan saat tiba di fasilitas kesehatan. Kredit: WHO/Pixelite Untuk mengatasi tantangan ini, MoH – dengan dukungan WHO – mengembangkan pedoman operasional komprehensif tentang kesehatan lingkungan di fasilitas kesehatan, yang mencakup pencegahan dan pengendalian infeksi serta AMR, dan juga e Menerapkan prinsip kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial – suatu kebutuhan yang krusial namun sering diabaikan. Hingga saat ini, 56 tenaga kesehatan dari 38 kantor kesehatan provinsi dan lembaga pelatihan regional telah mengikuti program “pelatihan bagi pelatih”, yang akan membantu implementasi pedoman secara nasional.
“Sebelum pelatihan, kami tidak sepenuhnya menyadari betapa besar pengaruh WASH terhadap keselamatan pasien dan kondisi kerja staf,” kata Ibu Rinawati dari Kantor Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta. “Sekarang, kami memiliki kemampuan untuk membawa perubahan nyata di fasilitas kami.” Selain pedoman, Direktorat Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, telah mengembangkan alat digital untuk memantau dan meningkatkan implementasi WASH di fasilitas kesehatan, sementara Kementerian Kesehatan dan WHO mendukung administrator fasilitas kesehatan untuk mengembangkan rencana aksi WASH.
Tujuannya adalah menyelaraskan perencanaan dan anggaran lokal dengan tujuan nasional serta membangun kepemilikan bersama. “Pedoman baru ini tidak hanya tentang infrastruktur fasilitas kesehatan kami, tetapi juga tentang. “Fasilitas kesehatan.
Ini tentang mengintegrasikan keadilan, keamanan, dan martabat ke dalam inti pelayanan kesehatan,” kata Dr. Lubna Bhatti, Kepala Tim Kesehatan Masyarakat di WHO Indonesia. “WASH inklusif sangat penting untuk membangun sistem kesehatan yang berpusat pada pasien, melindungi setiap pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dari infeksi tambahan, dan menghentikan munculnya serta penyebaran resistensi antimikroba (AMR).”
Dengan standar yang jelas, alat digital, dan tenaga kesehatan yang diberdayakan, Indonesia memperkuat keamanan pasien, menangani AMR, dan membangun sistem kesehatan yang lebih adil dan setara untuk setiap komunitas.
Kegiatan ini didukung secara finansial oleh Kerajaan Arab Saudi dan Pemerintah Luxembourg. Ditulis oleh Indah Deviyanti, Petugas Profesional Nasional (Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim), WHO Indonesia; Nora Arista, Petugas Profesional Nasional (Resistensi Antimikroba), WHO Indonesia; dan Itsnaeni Abbas (Konsultan Kesehatan Lingkungan), WHO Indonesia.