IBC: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Tertahan di Angka 5%
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tertahan di kisaran 5 persen sambil menghadapi tekanan terhadap pertumbuhan berkualitas pada tahun 2026. Penilaian tersebut diuraikan oleh Dewan Bisnis Indonesia (IBC) dalam laporan IBC Business Outlook 2026 berjudul “Inflection: Breaking the Growth Plateau”.
CEO IBC, Sofyan A. Djalil, mengatakan stabilitas makroekonomi tidak lagi cukup untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi. “Indonesia berada di titik balik, di mana keputusan kebijakan akan menentukan arah pertumbuhan di masa depan,” kata Sofyan Djalil saat peluncuran laporan di Jakarta pada Rabu, 14 Januari 2026.
Di tengah fragmentasi perdagangan global, Indonesia harus memprioritaskan penguatan arah pertumbuhannya, kata Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid. Ia menekankan pentingnya peningkatan produktivitas, kepastian bisnis, dan penguatan aliran investasi untuk mempertahankan fondasi pertumbuhan jangka menengah. Arsjad Rasjid yakin ekonomi Indonesia tetap.
Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global, namun penurunan konsumsi rumah tangga, perlambatan investasi, dan kebijakan fiskal dan moneter yang ketat dapat membebani momentum pertumbuhan. IBC memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,95 persen tahun ini, di atas proyeksi pertumbuhan global sekitar 2,4-3,1 persen. Kondisi ekonomi global dipengaruhi oleh fragmentasi geopolitik, ketegangan perdagangan, dan perlambatan ekonomi China.
Dalam laporan tersebut, IBC mengusulkan tiga katalis utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, yaitu kepastian kebijakan, peningkatan sumber daya manusia, dan pendalaman sektor modal atau keuangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut baik laporan IBC, dengan menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan peta jalan untuk meningkatkan ekspor Indonesia sepuluh kali lipat dalam 10 tahun ke depan.